Justitia Avila Veda, Sosok Inspiratif Pendamping Korban Kekerasan Seksual

Maraknya kasus pelecehan dan kekerasan seksual yang terjadi di Indonesia tentunya membuat kita khawatir. Di Indonesia sendiri menurut Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Kasus pelecehan atau kekerasan seksual sudah mencapai belasan ribu. Terutama paling banyak di alami oleh remaja bahkan anak di bawah umur. Namun yang paling miris pelecehan dan kekerasan seksual tidak hanya di lakukan oleh orang lain tetapi oleh orang terdekat, bahkan ada pula yang dilakukan oleh  orang tua nya sendiri. Sebagai seorang perempuan saya merasa sedih dengan kejadian ini. Lalu, saat saya membaca artikel mengenai kasus pelecehan dan kekerasan seksual, saya menemukan sosok seorang wanita yang sangat inspiratif. Beliau adalah Justitia Avila Veda.

Foto: kumparan


Profil

Justitia Avila Veda (Veda) adalah seorang pengacara perempuan yang mendedikasikan dirinya membentuk kolektif advokasi gratis khusus untuk korban pelecehan seksual. Nama Veda pertama kali viral pada Juni 2020 lalu. Saat itu Veda menawarkan bantuan konsultasi kasus kekerasan seksual lewat cuitan di akun Twitter-nya (sekarang X)

"kalau ada yang ingin konsultasi tentang kasus pelecehan seksual atau kasus kekerasan seksual, baik yang dialami diri sendiri atau orang lain bisa kirim email ke aku atau bisa direct message di Twitter"

Tidak sampai 24jam, cuitan itu menuai respons positif dan viral diserbu netizen. Ada yang meneruskan pesan tersebut, bahkan ada pula pengacara lain yang justru dengan sukarela menawarkan jasanya untuk membantu Veda.

Mendirikan KAKG

Pada November 2020, Veda memutuskan membuat struktur kelembagaan yang lebih akuntabel, transparan untuk kolektifnya sebagai badan konsultasi hukum. Kolektif tersebut kemudian terikat dalam kode etik advokat dan kode etik profesi yang dinamakan Kelompok Advokat untuk Keadilan Gender (KAKG). ini adalah kelompok yang memiliki program “Pendampingan Korban Kekerasan Seksual Berbasis Teknologi”.

Di KAKG terdapat empat kelompok masyarakat marjinal yang menjadi prioritas penanganan kekerasan seksual. Yaitu :
1. Anak dan kelompok yang secara ekonomi termarjinalkan.
2. Kelompok minoritas gender dan minoritas seksual.
3. Kelompok dengan kerentanan tertentu seperti pengungsi.
4. Kelompok penyandang disabilitas.

Dedikasi Veda dalam membela kelompok masyarakat marjinal dimulai sejak ia berkuliah S1 di Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Veda merupakan angkatan 2011 dan memilih hukum pidana sebagai jalan studinya. Selain tertarik dengan hukum pidana, Veda mulai tertarik terhadap isu perempuan. Saat itu dia sadar ada yang tak beres dengan pernyataan "Semua orang setara di mata hukum." Tapi menurutnya tak ada hukum yang benar-benar setara.

Veda juga bercerita bahwa kasus kekerasan seksual sangatlah rumit untuk dipahami prosesnya. Dirinya yang tumbuh dan besar di keluarga cukup berpendidikan saja tak memahami betul, kapan dan seperti apa jika ia benar-benar mengalami pelecehan dan kekerasan seksual. Veda semakin sadar posisi kelompok masyarakat termarjinalkan yang memiliki akses lebih sedikit di bidang pendidikan dalam menghadapi kasus kekerasan seksual. Membayangkan kesulitan yang akan dihadapi mereka, akhirnya hati Veda tergugah untuk membantu.

Veda dan rekannya sesama praktisi hukum membuka layanan aduan yang berisifat pro bono (sukarela) bagi korban kekerasan seksual berbasis teknologi. Yakni secara online atau dalam jaringan (daring). Langkah itu dilakukan karena saat itu pandemi Covid-19 masih melanda sehingga aktivitas untuk bertatap muka secara langsung sangat terbatas. Pendampingan berbasis teknologi ini dapat diakses pada akun instagram @advokatgender atau dengan mengirim email ke konsultasi@advokatgender.org. Di samping pendampingan hukum, layanan sahabat korban kekerasan seksual juga turut menyediakan layanan pemulihan medis, psikologis, serta sosial.

Veda berharap layanan pendampingan korban kekerasan seksual berbasis teknologi KKAG bisa menjangkau seluruh klien di Indonesia. Harapan ini datang karena kasus kekerasan seksual yang terjadi di wilayah Indonesia memiliki karakteristik yang berbeda setiap kasusnya.

Satu Indonesia Awards

Veda adalah Penerima Apresiasi Satu Indonesia Awards tahun 2022 yang berasal dari Jawa Barat. Satu Indonesia Awards adalah program pemberian apresiasi untuk generasi muda Indonesia yang berprestasi dan mempunyai kontribusi positif untuk masyarakat dan lingkungan sekitarnya. Ini adalah Apresiasi Astra bagi Anak Bangsa yang telah berkontribusi untuk mendukung terciptanya kehidupan berkelanjutan melalui bidang Kesehatan, Pendidikan, Lingkungan, Kewirausahaan dan Teknologi, serta satu Kategori Kelompok yang mewakili lima bidang tersebut. Menurut saya, beliau sangat layak mendapatkan penghargaan tersebut. Karena langkahnya dalam mendampingi korban kekerasan seksual terutama untuk kelompok masyarakat marjinal ini nyata dan layak untuk dijuluki "pahlawan perempuan". 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

#SharingMamaZico Stimulasi

#SharingMamaZico Pinguecuela

MPASI Perdana Zico